Jumat, 02 November 2012

GAK LAGI-LAGI

Telat. Lagi. Begitupun dengan Soray.
Dan pagi itu, kami berdiri bergetar di depan kelas.. Setelah sehari sebelumnya diterlantarkan di luar kelas, dan terpaksa hanya memandangi mereka yang menggulir bola di lapangan, atau sekali melirik mereka-mereka yang tengah serius belajar di dalam kelas. Aku hanya diam, seluruh tubuhku dingin dan perutku tak memihak kondisi. Beginilah kata-kata yang kubingkai tengah malam bersaksi :  


Maaf yang Tersemat

Teruntuk Pelangi delapan warna,
Yang melanglang semesta di hari Selasa dan Rabu,
Yang mencuri sinar mentari hingga tak berkutik..
Bu,
Kemarin siang, harum soto ayam merajami selaput-selaput penciuman
Belum lagi, canda tawa yang membahana seakan menjajah ruang untuk tak mengibakan bel yang mungkin meraung
Kulihat sepasang bulu mata lentik Soray masih bernaung  di sela-sela rapatan ujung matanya, berkubang dengan segelintir keringat, tertawa-tawa bersama koloninya diatas senja yang masih berpiyama
Menghalu horizon, membenamkan langkah dalam serat-serat tali sepatu yang jatuh melambat

Dan gelindingan bola saksinya
Rangkulan canda kawan-kawan seperjaka membuatku terhanyut
Lupa akan bel yang entah mengapa tak tertangkap oleh dua tangkup kulit telingaku
Hanya tentang bola voli dan net yang entah mengapa harus berada disana
Aku pun terhenyak, dan sesaat kemudian naik dan bergegas

Kupijaki ubin yang berundak-undak
Kutapaki  kaki semesta yang entah mengapa terasa tergeser satu per lima inci lebih lebar
Pintu kelas terasa merapat, habis jengkal
Dan ternyata bukan hanya sekedar asa yang terasa

Pintu benar-benar terkunci
Tak ada jawaban untuk ketukan
Satu ketuk, dua ketuk, tiga ketuk…
Dalam ketuk keempat, buku-buku jemariku berhenti menggertak
Teringat akan sepasang bola mata yang mungkin berbayang amarah
Atau hati yang mungkin terusik
Atau nada yang mungkin akan meninggi

Dengan sebilah penyesalan, tentang kedunguan akan waktu yang tak pernah berdetik terbalik
Terbit selembar rindu, yang terbingkai tak manis di balik pintu
Aku iri, dengan manusia-manusia di seberang kaca sana
Dan aku, kami disini, berada di luar jangkauan spektrum yang seakan-akan terbatas
Sumber inspirasi tanpa tanda koma yang tak terketik, mungkin tak terketuk lagi

Bu, ini adalah tentang filosofi kaca
Yang tak mendustai bayangan
Tentang keelokan tanpa tanggal batas waktu
Tentang aura yang tak terdefinisi  atau tentang  iringan nada yang diluar ketukan tuts  biasa
Tentang Guru Bahasa, yang selalu membuai kami dengan paras dan pembawaan diri yang diluar batas inspirasi yang mampu terlukis
Tentang guru Bahasa, yang menyalakan neuron di kelima panca indra kami
Tentang Guru Bahasa, yang seringkali menyuarakan simfoni  nafas yang member ruh pada  jiwa-jiwa tak berarah

Bu, mampukah sejurus kata-kata membuka pintu maaf ?
Dengan kesungguhan, fragmen nafas di sekon ini adalah maaf yang tersurat ke atmosfer sana

Tertanda,
Elly Yulyanti Koswara & Michael Soray Gemilang






Jumat, 26 Oktober 2012

Bidadari-Bidadari SMAN 2

I can't explain. Too much act-out-of-mind. HexaTeta.  

Kuncen Tridaya

Teta

Halo mentari. Aku tersanjung dengan tamahnya pagi tadi. Bagaimana bisa semua terjadi begitu cepat, tak terasa, namun logika masih enggan mengais wibawanya kembali. 
Semua orang terlihat lebih bahagia di tahun ini. Jauh lebih bahagia, maksudku. Begitupun dengan Frankenstein, nampaknya kulit kepalanya tak berlendir lagi, jahitan di sela-sela kulit dahinya mulai merapat.
Oh bermimpi lagi. Menyedihkan. Hanya ingin melemparkan semuanya ke ngarai. Aku ingin mengatakannya, segala-galanya. Tapi ini menakutkan. Bagaimana ini bisa terjadi sejadi-jadinya? Lagi-lagi layaknya mimpi yang terulang di setiap malam. Seluruh kehidupan terasa seperti saat kau berada dalam kondisi Teta. Air muka selalu tak menentu. Kata-kata semakin tak keruan. Pemikiran mulai gamang, dan terus seperti itu. 
Inspirasi. Bagaimana bisa makhluk dengan tingkah bukan makhluk menjadi sebuah sumber inspirasi tanpa tanda koma? 
Kau tahu, Franks. Kau tahu dirinya. Teramat menyebalkan bukan, perasaan seperti ini? Lebih buruk daripada kau menyaksikan kantung kotoran domba yang dibakar sepupumu pagi ini dan seantero rumah otomatis berbau tokai. 
 Haaaaaaaaa :'(  Aku tak ingin terlihat melankolis lagi didepan matanya. Aku tak pernah bertindak seperti balita lagi semenjak dia beranjak dari kehidupannya yang di ambang 'sesukaku'. Kau tahu, aku rindu merasa begitu sempurna. Aku rindu merasa begitu dimiliki. Aku rindu merasa begitu dihargai. Aku rindu merasa berhak penuh namun tidak menjajah. Aku rindu merasa setara, seimbang, sempurna. Beginikah rasanya hujan yang merindu tanah?




Rabu, 02 Mei 2012

A little piece of foolish

Kalau matahari itu analogi untuk "you know what I mean"... Berarti matahari bukan cuma satu. Ada satu di langit, satu di hatiku, satu difikiranku, sebetulnya ada dimana-mana. bahkan sepertinya ada satu di dengkulku dan satu di ujung bulu kumisku. kalau sampai ketahuan aku gombal begini habislah tawanya meledak di depan batang hidungku.


Ini dia. tapi dengan tambahan kumis tipis-tipis  
















 Dia memang semacam matahari buatku. Menerangi saat aku gelap dan tak tahu harus ke arah mana (semacam senter juga sepetinya), panas (maksudnya penuh amarah, bukan HOT, tapi sedikit hot juga). tapi dia bukan matahari yang ONTIME. Terbit dan tenggelam seenak jidat bapaknya.